Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata-rata dari pergerakan molekul-molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda lain atau menerima panas dari benda-benda lain tersebut. Panas adalah energi yang dipindahkan dari suatu obyek ke obyek lainnya karena adanya perbedaan suhu. Dalam sistem 2 benda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu tinggi. Macam-macam perpindahan panas yaitu konduksi adalah perpindahan panas dari suatu molekul ke molekul lain di sekitarnya. Konveksi adalah perpindahan panas yang diebabkan pergerakan molekul yang mempunyai energi lebih tinggi. Dan radiasi adalah perpindahan panas oleh gelombang elektromaghnetik. Skala suhu yang biasa digunakan adalah celcius, farenhait dan kelvin. Gangguan kesehatan akibat suhu yang tidak baik adalah sistemik disorder, heart stroke dan heart exhaution.
Kualitas udara di dalam ruangan mempengaruhi kenyamanan lingkungan ruang kerja. Kualitas udara yang buruk akan membawa dampak negatif terhadap pekerja/karyawan berupa keluhan gangguan kesehatan. Dampak pencemaran udara dalam ruangan terhadap tubuh terutama pada daerah tubuh atau organ tubuh yang kontak langsung dengan udara meliputi organ sebagai berikut :
a. Iritasi selaput lendir, iritasi mata, mata pedihm mata merah,mata berarir
b. Iritasi tenggorokan, sakit menelan, gatal, batuk kering
c. Gangguan neurotosik (sakit kepala, lemah/capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi)
d. Gangguan paru dan pernafasan (batuk, nafas berbunyi/mengi, sesak nafas, rasa berat didada)
e. Gangguan kulit (kulit kering, kulit gatal)
f. Gangguan saluran cerna/diare
g. Lain-lain: gangguan perilaku, gangguan saluran kencing, sulit belajar
Keluhan tersebut biasanya tidak terlalu parah dan tidak menimbulkan kecacatan tetap, tetapi jelas terasa amat mengganggu, tidak menyenangkan dan bahkan mengakibatkan menurunnya produktivitas kerja para pekerja. Kelembaban merupakan suatu tingkatan keadaan lingkungan udara basha yang disebabkan oleh adanya uap air tingkat kejenuhan sangat dipengaruhi oleh temperatur. Uap air selalu ada di udara, sebagian besar berasal dari penguapan bahan air. Udara disebut jenuh bila pada suhu tertentu tidak dapat menerima uap air.
D. Alat dan Bahan
a. Menggunakan Termohigrometer
No
|
Alat dan Bahan
|
Jumlah
|
1
|
Thermohigrometer (humidity/baro/temp.DATA RECORDER
|
1 buah
|
2
|
Stopwatch
|
1 buah
|
3
|
Alat tulis
|
1 buah
|
b. Menggunakan Slingmeter
No
|
Alat dan Bahan
|
Jumlah
|
1
|
Slingmeter
|
1 buah
|
2
|
Air
|
Secukupnya
|
3
|
Alat tulis
|
1 buah
|
E. Prosedur Kerja
a. Thermohigrometer
1. Gantungkan/letakkan alat ditengah ruangan
2. Biarkan selama 10-15 menit
3. Catat suhu dan kelembaban yang tertera pada thermohigrometer
4. Ulangi 3 sampai 5 kali pada titik yang berbeda pada ruangan
5. Hitung rata-rata hasil pengukuran
b. Slingmeter
1. Siapkan alat dan ruangan yang akan diukur suhu dan kelembabannya
2. Diperhatikan sumbu yang menghubungkan antara tempat pembasahan dengan ujung thermometer basah
3. Dibasahi sumbu suhu basah tersebut dengan air secukupnya, kemudia diayun-ayunkan dengan cara diputar-putar di udara seperti baling-baling
4. Dilakukan pengamatan masing-masing setiap 3 menit pada thermometer basah dan kering. Lakukan pada 3 tempat yang berbeda.
5. Hitung kelembaban relatifnya dengan menggunakan grafik.
F. Hasil Pemeriksaan
a. Hasil pemeriksaan pada ruangan dengan alat Termohygrometer
Titik
|
Suhu (oC)
|
Kelembaban (Rh)
|
I
|
32,5
|
71,5
|
II
|
32,6
|
67,1
|
III
|
32,7
|
67,2
|
IV
|
32,7
|
67,2
|
V
|
32,8
|
67,1
|
Rata-rata suhu ruangan adalah 32,66 derajat Celcius
Rata-rata kelembaban ruangan adalah 68,02 Rh
b. Hasil pemeriksaan pada ruangan dengan alat Slingmeter
- Pengukuran suhu kering I : 330 C = 91,50 F
- Pengukuran suhu basah I : 27,50 C = 81,50 F
- Pengukuran suhu kering II : 330 C = 91,50 F
- Pengukuran suhu basah II : 27,50 C = 81,50 F
- Pengukuran suhu kering III : 330 C = 91,50 F
- Pengukuran suhu basah III : 27,50 C = 81,50 F
G. Pembahasan
a. Pada praktikum pemeriksaan suhu dan kelembaban ruangan dilakukan di ruang kelas Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Di dalam ruangan tidak terdapat pendingin ruangan (AC) dan kipas angin. Cahaya matahari langsung masuk ke dalam ruang kelas karena tidak terdapat tirai. Tentu hal ini, akan mengubah suhu ruangan menjadi panas, di tambah dengan pengukuran yang dilakukan pada siang hari. Pemeriksaan ini menggunakan alat digital yaitu Termohygrometer yang dilakukan pada 5 titik berbeda pada ruangan.
b. Berdasarkan hasil praktikum, pengukuran suhu dan kelembapan dilaksanakan di Ruang Hyperkes lantai 3 dengan menggunakan alat Humidity/ Bara/Temperature Data Record. Pada saat dilakukan pengukuran kipas/AC tidak nyala dan pintu ditutup. Dalam praktikum kami mengukur 5 titik yang berbeda yaitu berada di titik pojok depan kanan kiri, tengah dan pojok belakang kanan kiri. Tiap titik dilakukan pengukuran selama 30 detik dengan hasil sebagai berikut. Untuk suhu pada titik 1 yaitu 32,50C , titik ke 2 = 32,60C , titik ke 3 = 32,70C , titik ke 4=32,70C , titik ke 5=32,8OC. Dari 5 titik tersebut jika dirata-rata didapatkan hasil sebesar 32,660C. Menurut Persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran Dan Industri, standart Suhu adalah Suhu 18°C – 28°C. Berdasarkan ketentuan tersebut berarti suhu ruang di ruang Hyperkes lantai 3 dapat dikatakan tidak memenuhi syarat karena hasil nya 32,66 0C melebihi syarat yang ditentukan oleh permenkes.
Sedangkan untuk pengukuran kelembapan udara dilakukan menggunakan alat dan kondisi ruang yang sama. AC/kipas tidak dinyalakan serta pintu ditutup. Pengukuran juga dilakukan di 5 titik dengan hasil sebagai berikut. Titik 1 kelembapannya = 71,5% , titik ke 2 =67,1%, titik ke 3 = 67,1%, titik ke 4 = 67,2%, titik ke 5 =67,1%. Dari 5 titik tersebut jika dirata-rata didapatkan hasil 68%.
Sedangkan untuk pengukuran kelembapan menggunakan alat sling psikometer dilaksanankan di ruang hygiene II , dengan kondisi kipas angin menyala ,AC mati dan pintu terbuka. Pengukuran dilakukan mengambil titik tengah ruangan dengan melakukan pengulangan sebanyak 3 kali dengan hasil sebagi berikut pengukuran 1. Pengukuran suhu kering 330 C = 91,50 F ,Pengukuran suhu basah 27,50 C = 81,50 F , pengukuran ke 2. Pengukuran suhu kering 330 C = 91,50 F ,Pengukuran suhu basah 27,50 C= 81,50 F , pengukuran ke 3 Pengukuran suhu kering 330 C= 91,50 F ,Pengukuran suhu basah 27,50 C = 81,50 F. Berdasarkan pembacaan dari grafik kelembaban, maka kelembaban ruangan hygiene 2 adalah 72 .
Sementara untuk kelembapan, menurut Persyaratan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran Dan Industri, Standart Kelembaban adalah 40 % - 60 %. Berdasarkan ketentuan tersebut berarti kelembapan pada ruang Hyperkes lantai 3 dan ruang Hygiene II dapat dikatakan melebihi baku mutu yang telah ditetapkan karena hasilnya sebesar 68% untuk ruang Hyperkes lantai 3 dan 72% untuk ruang Hygiene II.
H. Kesimpulan
a. Dari hasil pemeriksaan suhu dan kelembaban ruangan yang menggunakan alat Termohygrometer, didapatkan :
1. Titik I adalah 32,5 derajat Celcius dan 71,5 Rh
2. Titik II adalah 32,6 derajat Celcius dan 67,1 Rh
3. Titik III adalah 32,7 derajat Celcius dan 67,2 Rh
4. Titik IV adalah 32,7 derajat Celcius dan 67,2 Rh
5. Titik V adalah 32,8 derajat Celcius dan 67,1 Rh
Dan dihasilkan rata-rata suhu ruangan sebesar 32,66oC dan kelembaban ruangan sebesar 68,02 Rh.
b. Berdasarkan pembacaan dari grafik kelembaban, maka kelembaban ruangan hygiene 2 adalah 72 .
I. Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar